Subsidi BBM Dihemat Rp 25 Triliun

Rabu, 6 Februari 2008 | 02:06 WIBJakarta, Kompas – Rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla, Selasa (5/2), memutuskan menghemat subsidi energi sebesar Rp 25 triliun. Pemotongan subsidi dilakukan untuk menunjang program stabilisasi harga-harga kebutuhan pokok di masyarakat.Hal ini disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, dalam keterangan pers, seusai mengikuti rapat koordinasi. Rincian pemotongan subsidi BBM tersebut terdiri atas pemotongan subsidi khusus untuk tiga jenis produksi bahan bakar minyak (BBM), seperti premium, minyak tanah, dan minyak solar, sebesar Rp 10 triliun, penghematan subsidi listrik sebesar Rp 10 triliun, serta tambahan potensi penerimaan negara dari pertambangan dan migas sebesar Rp 5 triliun.

Sebelumnya, dalam usulan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008, pemerintah memperkirakan subsidi BBM bakal melonjak dari Rp 45,8 triliun menjadi Rp 116,8 triliun. Apabila ada upaya menekan konsumsi, subsidi BBM bisa ditekan menjadi Rp 106,8 triliun. ”Dalam rangka tambahan subsidi program stabilisasi, harus dikompensasi dari pos lain. Bagaimana mengurangi subsidi BBM untuk dialihkan,” kata Purnomo.

Selain penerapan pendistribusian minyak tanah dengan sistem tertutup yang dilakukan mulai April mendatang, pemerintah berencana menerapkan penggunaan kartu kendali dalam pembelian premium dan solar.

Kepala Badan Pengatur Hilir Migas Tubagus Haryono mengemukakan, dengan kartu kendali pembelian BBM akan dibatasi. ”Teknisnya akan dimatangkan lagi. Dari tiga jenis produk BBM itu, ada perhitungan yang lain dan pengurangan jumlah,” ujarnya.

Tubagus mengatakan, perubahan kuota BBM bersubsidi 2008 akan dibahas lebih lanjut dengan Depkeu. Potensi mengurangi pengeluaran subsidi BBM didapat dari pemotongan margin keuntungan PT Pertamina. Pemerintah mengusulkan margin pendistribusian bersubsidi diturunkan dari 13,5 persen menjadi 12,5 persen. Penghematan yang diperoleh mencapai Rp 1 triliun.

Target penghematan subsidi melalui konversi minyak tanah ke elpiji juga ditingkatkan. Dirut PT Pertamina Ari Soemarno mengatakan, konversi elpiji dipercepat dari target semula 12,5 juta tabung menjadi 15 juta tabung.

Sementara terkait upaya menutup kekurangan subsidi listrik, Komisaris Utama PT Perusahaan Listrik Negara Alhilal Hamdi mengatakan, PLN siap mencari pinjaman dari dalam negeri jika alokasi subsidi dari pemerintah tidak menutup kebutuhan operasional. Perseroan menjajaki opsi penerbitan obligasi lokal atau pinjaman dari perbankan.

Meski pemerintah menaikkan asumsi subsidi listrik dalam APBN 2008 dari Rp 29 triliun menjadi Rp 44 triliun, PLN menghitung baru setengah dari kebutuhan subsidi yang terpenuhi. PLN memperkirakan dengan asumsi harga minyak 80 dollar AS per barrel subsidi listrik bakal mencapai Rp 68,5 triliun.

”Pilihannya PLN mengurangi pasokan listrik, artinya ada pemadaman atau menaikkan tarif. Opsi menaikkan tarif kan tak dimungkinkan sampai 2009,” ujarnya.(HAR/DOT/WAD/NTA/FUL/INU)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s