=l

Dalam suatu masa, hidup seorang manusia. Tak dia biarkan seorang pun untuk mengerti dirinya. Selalu ada batas yang dia berikan untuk orang lain. Hanya dirinya lah yang dia anggap paling mengerti ttg keadaannya sendiri. Dia ingin semua orang berpikir seperti apa yang dia pikirkan, saat reaksi dari orang-orang disekitarnya berbeda, maka dia langsung menarik kesimpulan, bahwa mereka tak tau cara memahami dirinya.

Seseorang pernah berkata pada dia, mengapa tak kau buka batas itu, setiap orang yang mencoba, kau tak memberi kesempatan, kau langsung pada kesimpulan, mereka tak bisa memahami mu. Dia pun terdiam, orang itu benar, dialah yang selama ini selalu menolak siapa pun yang mencoba menolongnya. Namun hatinya tak mau mengakui, dia pun masih bertahan dengan keangkuhan hatinya. “Tak seorang pun megerti ku, biarkan aku dan diriku saja”. Tampak luar, dia adalah seorang yang sangat bersahabat, sangat baik, namun tak seorang pun yang benar-benar mengenalnya. Karena batasan yang dia berikan.

Tahun demi tahun berlalu, dia mulai membuka hatinya. Dia lah yang rugi, ketika menutup mata terhadap dunia, dia telah berubah, dia membiarkan orang lain untuk mengisi hidupnya, sangat sepi dunia ini, jika hanya ada dia dan hatinya. dialog itu hanya 2 arah, dan berasal dari pikiran yang sama. Dunia nya mulai berwarna-warni, telah dia tinggalkan egonya, telah dia turunkan pembatas itu, sekarang hidupnya penuh dengan warna, walau terkadang keadaan tak mengerti apa yang dia inginkan. Dia belajar menerima, belajar untuk ikhlas dan lapang dada. Kadang-kadang dialog antara hati dan dirinya masih terjadi. Terjadi, saat dia merasa tak seorang pun mengerti.

Suatu ketika, dia dapati seseorang…

Mirip seperti dirnya beberapa tahun silam, tampak luar sangat menyenangkan, namun hatinya sepi, dia menutup dirinya untuk orang lain. Karena mereka mirip, maka mereka pun bersahabat. Terkadang dia merasa sangat sedih, ketika sahabatnya mengatakan, “kau tak mengerti, biarlah aku memikirkannya sendiri”. Walau mereka sudah bersahabat dalam waktu yang cukup lama, Sahabatnya tak kunjung mempercayainya. Kini dia tau, bagaimana perasaan orang-orang yang dulu ada disekitarnya. Saat kepercayaan sahabatnya mulai terjadi, tiba-tiba tanpa sepengetahuannya, ternyata sahabatnya kecewa, dan tak menaruh kepercayaan lagi. Sahabatnya tak pernah mengatakan alasan. Yang keluar dari mulut sahabatnya adalah. “kau tak mengerti….biar aku saj ayang menyimpannya”

One comment

  1. dhedia · Juli 8, 2008

    Lha…Ini apa ya?
    Tulisan aneh…
    hehehhe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s